Senin, 23 Juli 2012

ANOMALI DI PASAR MODAL..


ANOMALI DI PASAR MODAL

Meskipun hipotesis pasar efisien telah menjadi konsep yang dapat diterima dibidang keuangan, namun pada kenyataannya beberapa penelitian menunjukkan adanya kejadian yang bertentangan yang disebut anomali pasar. Menurut Jones (1996) anomali pasar adalah teknik-teknik atau strategi-strategi yang berlawanan atau bertentangan dengan konsep pasar modal yang efisien dan penyebab kejadian tersebut tidak dapat dijelaskan dengan mudah.

Jones (1996) (dalam Jogiyanto, 2000) mendefinisikan anomali pasar (market anomaly) sebagai teknik atau strategi yang tampaknya bertentangan dengan pasarefisien. Overreaction hypothesis merupakan reaksi yang berlawanan dengan kondisi normal. Overreaction hypothesis memprediksikan sekuritas yang masuk kategori loser dan biasanya mempunyai return rendah justru akan mempunyai abnormal return yang tinggi (Sukmawati dan Daniel, 2002). Kebalikannya, sekuritas yang biasanya mempunyai return yang masuk kategori winner justru akan mempunyai abnormal return yang rendah. 

Hal ini disebabkan adanya pengaruh perilaku investor yang memberikan bobot yang berlebihan untuk informasi terkini dalam memprediksikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Jika investor memberikan bobot yang berlebihan untuk informasi terbaru maka investor akan cenderung bereaksi berlebihan terhadap informasi. Hipotesis reaksi berlebihan bersandar pada asumsi perilaku pasar bereaksi berdasarkan penekanan pada informasi terakhir dalam melakukan koreksi pada periode berikut. Apabila pemodal mendasarkan pada informasi terakhir, maka pemodal akan cenderung overreact terhadap pengumuman. Secara psikologis, pelaku pasar akan bereaksi lebih dramatis terhadap informasi yang jelek.

Beberapa anomali yang terdapat di pasar modal antara lain :
a. Price earning (P/E) effect adalah anomali dimana saham dengan P/E rendah menunjukkan risk adjusted return yang lebih tinggi dibandingkan dengan saham yang memiliki P/E tinggi (Jones, 1996). Anomali ini pertama kali ditemukan oleh Basu pada tahun 1977 dan 1983.
b. Size effect adalah anomali dimana risk adjusted return dari perusahaan ukuran kecil lebih tinggi dari perusahaan dengan ukuran besar (Jones, 1996).

Anomali ini ditemukan oleh Banz (1981) dan Reinganum (1981).
a. January effect merupakan anomali pasar yang menyatakan bahwa return sahamsaham di bulan Januari cenderung lebih tinggi dibanding bulan-bulan yang lalu (Kleim, 1986 dalam Jones, 1996).
b. Neglected firm effect, merupakan suatu kecenderungan bahwa investasi pasar saham pada perusahaan yang kurang dikenal dapat memberi tingkat keuntungan abnormal, karena perusahaan kecil cenderung diabaikan oleh investor besar maka informasi mengenai perusahaan ini cenderung tidak tersedia. Kurangnya informasi tersebut membuat perusahaan kecil menjadi lebih berisiko sehingga menimbulkan tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Anomali ini ditemukan oleh Profesor keuangan Avner Arbel pada tahun 1982 (Jones, 1982).
c. Reversal effect adalah efek pembalikan rata-rata return yang merupakan sebutan lain untuk anomali winner-loser yaitu kecenderungan saham yang memiliki kinerja buruk (loser) akan berbalik menjadi saham yang memiliki kinerja baik (winner) pada periode berikutnya dan begitu juga sebaliknya. Anomali ini pertama kali ditemukan oleh DeBondt dan Thaler tahun 1983 (Yulianawati,2003).

Dampak Psikologis Anomali Pasar

Efek psikologis, pelaku pasar membuat persepsi atau opini krisis atau peristiwa yang terjadi melebihi keyakinan terhadap ekspektasi nilai fundamental yang dimiliki secara intrinsik dengan berbagai pendekatan yang lazim kita lakukan (seperti Discounted Free cash Flow, Relative valuation maupun pendekatan Real Options). Sebagai akibatnya, pergerakan pasar terlihat tidak rasional (irrasional) dan bahkan memunculkan sejumlah anomali-anomali baru yang relatif sulit untuk dijelaskan dengan persepsi fundamental (rational perception, Efficient market Hypothesis). 

Sebagai contohnya, pada saat Bursa saham AS (Dow Jones) mengalami penurunan yang tajam, maka secara psikologis, penurunan tersebut dapat berdampak pada penurunan tajam bursa-bursa di kawasan termasuk Bursa di Indonesia, kendati secara fundamental banyak informasi fundamental yang positif bagi saham-saham di Jakarta (seperti kenaikan laba bersih, informasi pembagian dividen, informasi pengembangan bisnis emiten dll), demikian pula dapat terjadi sebaliknya. Contoh lainnya adalah, pada saat ekspektasi fundamental terhadap suatu saham atau pasar sedang meningkat, kadang terjadi justru harga mengalami penurunan tajam karena ada institusional investor yang sedang melakukan aksi profit taking. Meskipun kondisi tersebut dapat dijelaskan secara rasional, yaitu kecenderungan lebih terintegrasinya seluruh pasar di dunia, namun banyak hal yang irrational yang tidak mampu dijelaskan oleh ekspektasi fundamental semata, sehingga seolah-olah prediksi kita selalu salah!

Behavioral “Finance” Analysis.
 
Dengan semakin berkembangnya fenomena-fenomena dan anomali-anomali baru di pasar modal maupun pasar keuangan, semakin terintegrasinya seluruh pasar yang dahulu lebih tersegmentasi, dan semakin cerdasnya para pelaku pasar, semakin bertambahnya pelaku pasar serta semakin beragamnya produk-produk investasi baru, maka memunculkan suatu pendekatan baru dalam analisa pasar yaitu Behavioral “Finance” Analysis.

Analisa Behavioral ini merupakan pendekatan komprehensif dan kohesif yang mengkombinasikan antara analisa fundamental, analisa teknikal dan analisa entimen dan psikologi pelaku pasar. Anggap saja bahwa pasar modal maupun pasar keuangan adalah “manusia” yang memiliki emosi, karakteristik, kecenderungan tertentu pada suatu kondisi. Kumpulan persepsi dari seluruh pelaku pasar lah yang pada akhirnya membentuk harga dan menentukan arah bagi pasar. Pasar bisa jadi sedang sangat sensitif, sangat optimistik, sangat bingung, sangat khawatir yang semuanya dapat dianalisa dengan pendekatan behavioral Finance analysis.

Pendekatan Behavioral analysis, mengkombinasikan pendekatan analisa fundamental dana analisa teknikal untuk memprediksi arah pergerakan pasar. Beberapa bidang menarik yang dapat di analisa adalah intermaket analysis (bagaimana memahami perilaku pergerakan antar pasar, pasar saham, komoditi, obligasi, futures, indices, pasar non finansial), sector rotation (bagaimana memahami siklus dari setiap sector pada kondisi-kondisi tertentu), market breath (bagaimana memahami sentiment-sentimen yang sedang meliputi suatu pasar).

Kesimpulan

Uraian-uraian diatas, menunjukkan bahwa Behavioral Finance Analysis merupakan suatu pendekatan yang dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terjadi pada pasar terutama kejadian-kejadian pasar yang irrasional yang relatif sulit diprediksi dengan menggunakan pendekatan fundamental (Discounted Free Cash Flow, Relative valuation, dan Real Options Model ), penggunaan indikator-indikator sentimen dan psikologi pasar memungkinkan diperoleh prediksi arah pasar yang lebih akurat daripada pendekatan fundamental semata . Pendekatan Behavioral Finance Analysis bukan berarti pendekatan rival dari pendekatan fundamental, namun merupakan pendekatan yang melengkapi dan lebih komprehensif dengan mengkombinasikan pendekatan fundamental, pendekatan teknikal dan pendekatan psikologi dan sentiment pasar, sehingga diharapkan diperoleh hasil analisa yang lebih komprehensif, kohesif dan powerful untuk memproyeksikan arah/kecenderungan pergerakan pasar pada tiap kondisi apapun. Penulis menyadari bahwa pendekatan Behavioral Finance Analysis merupakan pendekatan baru yang memerlukan kajian-kajian dan riset baru yang secara terus menerus agar dihasilkan suatu analisa baku yang jauh lebih baik.

Notes: Silahkan di Klik : CARA MEMBUKA REKENING EFEK


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar